Jum’at siang, 29 Februari, aku bergegas ke Bandung. Puas dengan semiloka di Hotel Millenium karena ketemu teman2 lama (Pa Nandang dr Sumedang, Hans Antlov, Mas Suhardi LP3ES, Khudri & Mul dr Makassar, Lerry dr Kupang, Dedy Haryadi TIFA), juga dapat kawan baru dari Aceh (Wakil Walikota Banda Aceh), Kupang (Walikota yg menang pilkada karena dukungan parta2 Islam dan kampanyenya dibiayai rakyat) dan aktivis ECOSOC Right Institute (yg sempet dikerjain mendadak disuruh presentasi), aku berlari keluar lobby hotel dan minta dipanggilin Blue Bird. "Ke UKI!"
Tanpa harus memutar arah di Cililitan setelah menyusuri Casabanca, aku turun dr taksi dan berlari mengejar bis Primajasa jurusan Tasik. Bis berpenumpang jarang, mungkin karena masih siang. Ah… senangnya menuju Bandung
Tol Cikampek dan Cipularang lancar, begitu pula Padaleunyi. Hanya ada hambatan selepas Buah Batu, truk nabrak ekor truk. Tidak parah, penduduk sekitar tol nonton. Primajasaku berlalu mendekati Cileunyi. Mendung.
Angkot hijau Cileunyi-Cicaheum menunggu penumpang di perempatan arah Rancaekek dekat rumah sakit. Turun dr Primajasa, aku naiki angkot. Penumpangnya cuma bertiga. Angkot pun merayap samapi terminal, ngetem dan sopirnya manggil2 penumpang lagi.
Sepanjang jalan menuju Ujungberung tidak ada perubahan berarti sejak beberapa bulan terakhir. Memasuki batas Kota Bandung dr arah Timur, angkot belok kanan ke Jl. AH Nasution (dulu Jl Raya Cipadung). Blum macet juga karena magrib masih 2 jam lagi.
Hujan sudah menitik ketika aku turun dari angkot dan disambut ojeg. Kunaiki ojek, eh pinggangku dicolek dr belakang. Ternyata mang ojeg teangga almarhumah kakak iparku. "Mulih Bud?" Kujawab, "Muhun Kang, mangga!" Dengan ongkos 2 rb aku diantar ke rumah sambil kututupi kepalaku dengan telapak tangan. Aku lupa membuka payung.
Jum’at sore sampai Selasa pagi aku di kota kesayanganku, sayang hujan terus tiap sore, jd males jalan2. (Padahal ini cuma alasan untuk menutup-nutupi kecanduanku pada game komputer: Civilizayion III :)) Wah, gimana aku mau nulis Bandung secara representatif kalo ga keliling. Padahal Apop minta tulisan soal Bandung…he he he. Sekenanya aja ya, Pop. Nanti kuceritain keadaan jalan yg kulewati.
Pikiran Rakyat pun malas kubaca, berita utamanya paling soal pilgub. Di rumah sudah tersedia kartu dartar pemilih. Kutanda tangan juga walau aku berniat golput. Si Apip lagi, ngundang diskusi di Kantor WALHI, Sabtu pagi, diskusi soal pilgub Jabar. Maleeeeeesss…. pagi2 kan enaknya ngopi & baca koran. Sorry Pip
Tadinya mau pulang Senin siang, tapi masakan ibuku uenak tenan! Sambalnya, lalapannya, goreng pindangnya…. Selasa pagi aja deh pulangnya…
4 Maret, 08.00 kupamiti Ibu. "Minggu depan pulang?" tanya ibuku. "Nggak ah, ada perlu." Aku ga terus terang, Sabtu dan Minggu adalah kesempatanku berkencan. Dengan siapa ??? Ngaku-ngaku deh…ha ha ha
Btw, kubawa helmku lalu berjalan ke lapangan dekat kantor RW. Kumpulan ojeg yg akrab denganku menyambut dengan senyum lebar dan tawa. "Ka Jakarta deui?" Ojeg yg kena gilir mengantarku ke setasiun Bandung. "Ka Cipadung heula nya, abdi meser tempe goreng heula."
Selesai mengemas oleh2 untuk tetangga di Kalibata, kami pun menyusuri Jl AH Nasution, belok ke Pangaritan, tembus ke Cisaranten Wetan, lewati kantor PUPUK, masuk komplek Arcamanik menuju Terusan Jl Jakarta, motong Kiaracondong, ke Ahmad Yani, Gudang Utara, belok ke Belitung, kitari Taman lalu-lintas, ke kiri kitari Balai Kota & Bank Indonesia, ke kanan lalui Suniaraja, ke kolong Viaduck, kiri lagi lewat Kantor Pusat PT KA, sempat menatap Rumah Dinas Gubernur, ke kiri dan kiri lagi: sampe deh…. ("Panas bujur euy…"). Bayar ojeg: Rp 20 rebu.
Panjang ya? Apa aja yg menarik sepanjang jalan Cibiru - Kebon Kawung? Buatku, yg menarik antara lain: pondasi jembatan dalam rangka normalisasi sungai … (?) sebelum Cisanten dah jadi, tinggal bentangan betonnya. Pengatur lalu-lintas berambut belang (hitam & cat pirang) sambil minta receh, sepanduk "Dilarang berjualan di sepanjang jalur ini" di jalan raya Komplek Arcamanik sebelum kami belok ke Jl Golf Barat, 1 lg mall dekat perempatan Kiaracondong Jl Jakarta, bangunan tua peninggalan Belanda di Jl Gudang Utara yg dicat hingga enak dipandang, pohon2 mahoni dan angsana yg menjulang (asik deh kalo angsana menggugurkan bunganya ("jiga disawer ku kembang karoneng laleutik"), pohon sejenis beringin yang merana di sepanjang Braga (padahal katanya mahal), dan akhirnya Stasiun Bandung yg lengang…
"Ada kereta jam 10.30?" tanyaku. "Ada, Argo Gede, 60 rb." Ahhhhh…. Hoka Bento, here I come… (lapar, ga sempet sarapan). "Paket B dan jus jeruk, esnya dikit aja. Berapa?"
Sambil nunggu Paket B, kubaca bukunya mantan menteri perindustrian tentang Visi Indonesia 2030. Cuma sempat baca pengantarnya, makanan dah datang. Kulahap…
Hmmmmm…., kenyang. Ngopi ahhhh… Dunkin Donut, here I come… (ha ha ha… gembul ya?) Biarin, lg happy. "Kopi hitam aja. Berapa?" Dengan terlatih sang pramuniaga langsung menawarkan paket tambahan, "Bagaimana kalo tambah seribu rupiah, Bapak bisa dapat tambahan donat?" Iya lah…aku mau, cume serebu, pake tambahan senyum manis lagi, "Ok, saya mau donat bertabur almon."
Setelah kutaruh ransel dan sekantung plastik (tanpa kuhiraukan protes Dee Lestari yg anti ‘keresek’) oleh2 tempe goreng, sale kering, keripik bayam dan apa tuuuh…yg silindris putih kekuningan, aku pun menuju ekor gerbong: ngopi, makan donat &…merokok. (Kebiasaan buruk!)
Argo Gede berjalan tepat waktu. Keluar dr Stasiun Bandung, kiri kanan rel tampak drainase baru. Lumayan bersih…..tunggu Ciroyom, Andir, Cimahi, Padalarang… Emang ada stasiun KA di Indonesia yg bersih? Ha ha ha…. menghina sekali. Jd inget kata2 Wapres atau siapa ya, "Jangan suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri!)
Donat abis. Kopi abis. Rokok abis 4 batang. Kucuci tangan dan kembali ke kursi 6B (seharusnya A, tapi dah ada yg nempatin, judes
di gerbong-1. Kurapatkan jaket lantas berusaha memejamkan mata.
Sampe di Jatinegara jam 13.30, telat 15 menit, biarin deh… Aduh, jalan depan setasiun tergenang. Habis hujan besar rupanya. Mana Blue Bird? "Ke Kalibata Pak."
Jakarta, here I come… again.