So called “friendship”

March 24th, 2008 by bengjaw

Teman-teman lama sejak SD sampe kuliah, banyak yg dah lama ga ketemu. Wajar, masing-masing sibuk dengan urusannya. Sesekali pengen juga reuni, ajakan di milis dah meluncur, tinggal realisasi. Beberapa begitu akrab, kalo pengen ketemu tinggal telepon atau SMS. Asal ada kesempatan, ketemu deh…

Teman-teman baru ada yg tiap hari ketemu, ada yg ketemu sekali doang, ada yg beberapa kali ketemu terus ngilang :( … Wajarkah? Para tetangga tentu tiap hari ketemu. Walau ga sempat ngobrol panjang, setidaknya aku bertukar sapa dengan tetangga. Teman yg kenal di seminar atau acara sejenisnya wajar saja cuma ketemu sekali. Soalnya ada yg tinggal di Banda Aceh atau Kupang, ada juga yg deket tp belum ada kesempatan atau "takut" ketemu aku… ha ha ha. Yg paling bikin sedih adalah teman yg sempat berkomunikasi secara intens, tiba-tiba "menghilang".

Pasti aku punya andil dalam "menghilangkan" teman itu. Pasti ada alasan kuat hingga dia menghilangkan diri. Sakitkah? Tidak, dah ada konfirmasi; setidaknya sehat fisiknya. Marahkah? Mungkin, walau dia bukan tipe pemarah. Alasan lain? I wish I knew :(

Ketidakjelasan dan ketidaktahuan membuatku sangat tidak nyaman. Masih lebih mudah mengatasi penderitaan yang jelas sebabnya, setidaknya aku bisa mencari obatnya.

Nampaknya aku harus belajar sesuatu yg baru: menerima ketidakjelasan. Tuhan pun tidak mungkin kuketahui wujudnya, akal & perasaanku hanya mampu mengenali karakter-NYA. "Tapi temanku itu bukan Tuhan," jerit perasaanku. Untung akalku segera menesihatiku, "Dia manusia merdeka yg bebas menentukan pilihan-pilihan."

Sebebas apa manusia memilih? Mungkin sebebas kemampuannya menerima akibat pilihan-pilihan. Lantas aku harus memilih sikap bagaimana terhadap temanku yg "menghilang" itu?

Well, life never easy but it’s exciting anyway… don’t you think?

I miss you so much, my "friend" …
("Kapan2 kita nonton seni pertunjukan ya…")

Bandung awal Maret 08

March 4th, 2008 by bengjaw

Jum’at siang, 29 Februari, aku bergegas ke Bandung. Puas dengan semiloka di Hotel Millenium karena ketemu teman2 lama (Pa Nandang dr Sumedang, Hans Antlov, Mas Suhardi LP3ES, Khudri & Mul dr Makassar, Lerry dr Kupang, Dedy Haryadi TIFA), juga dapat kawan baru dari Aceh (Wakil Walikota Banda Aceh), Kupang (Walikota yg menang pilkada karena dukungan parta2 Islam dan kampanyenya dibiayai rakyat) dan aktivis ECOSOC Right Institute (yg sempet dikerjain mendadak disuruh presentasi), aku berlari keluar lobby hotel dan minta dipanggilin Blue Bird. "Ke UKI!"

Tanpa harus memutar arah di Cililitan setelah menyusuri Casabanca, aku turun dr taksi dan berlari mengejar bis Primajasa jurusan Tasik. Bis berpenumpang jarang, mungkin karena masih siang. Ah… senangnya menuju Bandung :)

Tol Cikampek dan Cipularang lancar, begitu pula Padaleunyi. Hanya ada hambatan selepas Buah Batu, truk nabrak ekor truk. Tidak parah, penduduk sekitar tol nonton. Primajasaku berlalu mendekati Cileunyi. Mendung.

Angkot hijau Cileunyi-Cicaheum menunggu penumpang di perempatan arah Rancaekek dekat rumah sakit. Turun dr Primajasa, aku naiki angkot. Penumpangnya cuma bertiga. Angkot pun merayap samapi terminal, ngetem dan sopirnya manggil2 penumpang lagi.

Sepanjang jalan menuju Ujungberung tidak ada perubahan berarti sejak beberapa bulan terakhir. Memasuki batas Kota Bandung dr arah Timur, angkot belok kanan ke Jl. AH Nasution (dulu Jl Raya Cipadung). Blum macet juga karena magrib masih 2 jam lagi.

Hujan sudah menitik ketika aku turun dari angkot dan disambut ojeg. Kunaiki ojek, eh pinggangku dicolek dr belakang. Ternyata mang ojeg teangga almarhumah kakak iparku. "Mulih Bud?" Kujawab, "Muhun Kang, mangga!" Dengan ongkos 2 rb aku diantar ke rumah sambil kututupi kepalaku dengan telapak tangan. Aku lupa membuka payung.

Jum’at sore sampai Selasa pagi aku di kota kesayanganku, sayang hujan terus tiap sore, jd males jalan2. (Padahal ini cuma alasan untuk menutup-nutupi kecanduanku pada game komputer: Civilizayion III :)) Wah, gimana aku mau nulis Bandung secara representatif kalo ga keliling. Padahal Apop minta tulisan soal Bandung…he he he. Sekenanya aja ya, Pop. Nanti kuceritain keadaan jalan yg kulewati.

Pikiran Rakyat pun malas kubaca, berita utamanya paling soal pilgub. Di rumah sudah tersedia kartu dartar pemilih. Kutanda tangan juga walau aku berniat golput. Si Apip lagi, ngundang diskusi di Kantor WALHI, Sabtu pagi, diskusi soal pilgub Jabar. Maleeeeeesss…. pagi2 kan enaknya ngopi & baca koran. Sorry Pip :)

Tadinya mau pulang Senin siang, tapi masakan ibuku uenak tenan! Sambalnya, lalapannya, goreng pindangnya…. Selasa pagi aja deh pulangnya…

4 Maret, 08.00 kupamiti Ibu. "Minggu depan pulang?" tanya ibuku. "Nggak ah, ada perlu." Aku ga terus terang, Sabtu dan Minggu adalah kesempatanku berkencan. Dengan siapa ??? Ngaku-ngaku deh…ha ha ha

Btw, kubawa helmku lalu berjalan ke lapangan dekat kantor RW. Kumpulan ojeg yg akrab denganku menyambut dengan senyum lebar dan tawa. "Ka Jakarta deui?" Ojeg yg kena gilir mengantarku ke setasiun Bandung. "Ka Cipadung heula nya, abdi meser tempe goreng heula."

Selesai mengemas oleh2 untuk tetangga di Kalibata, kami pun menyusuri Jl AH Nasution, belok ke Pangaritan, tembus ke Cisaranten Wetan, lewati kantor PUPUK, masuk komplek Arcamanik menuju Terusan Jl Jakarta, motong Kiaracondong, ke Ahmad Yani, Gudang Utara, belok ke Belitung, kitari Taman lalu-lintas, ke kiri kitari Balai Kota & Bank Indonesia, ke kanan lalui Suniaraja, ke kolong Viaduck, kiri lagi lewat Kantor Pusat PT KA, sempat menatap Rumah Dinas Gubernur, ke kiri dan kiri lagi: sampe deh…. ("Panas bujur euy…"). Bayar ojeg: Rp 20 rebu.

Panjang ya? Apa aja yg menarik sepanjang jalan Cibiru - Kebon Kawung? Buatku, yg menarik antara lain: pondasi jembatan dalam rangka normalisasi sungai … (?) sebelum Cisanten dah jadi, tinggal bentangan betonnya. Pengatur lalu-lintas berambut belang (hitam & cat pirang) sambil minta receh, sepanduk "Dilarang berjualan di sepanjang jalur ini" di jalan raya Komplek Arcamanik sebelum kami belok ke Jl Golf Barat, 1 lg mall dekat perempatan Kiaracondong Jl Jakarta, bangunan tua peninggalan Belanda di Jl Gudang Utara yg dicat hingga enak dipandang, pohon2 mahoni dan angsana yg menjulang (asik deh kalo angsana menggugurkan bunganya ("jiga disawer ku kembang karoneng laleutik"),  pohon sejenis beringin yang merana di sepanjang Braga (padahal katanya mahal), dan akhirnya Stasiun Bandung yg lengang…

"Ada kereta jam 10.30?" tanyaku. "Ada, Argo Gede, 60 rb." Ahhhhh…. Hoka Bento, here I come… (lapar, ga sempet sarapan). "Paket B dan jus jeruk, esnya dikit aja. Berapa?"

Sambil nunggu Paket B, kubaca bukunya mantan menteri perindustrian tentang Visi Indonesia 2030. Cuma sempat baca pengantarnya, makanan dah datang. Kulahap…

Hmmmmm…., kenyang. Ngopi ahhhh… Dunkin Donut, here I come… (ha ha ha… gembul ya?) Biarin, lg happy. "Kopi hitam aja. Berapa?" Dengan terlatih sang pramuniaga langsung menawarkan paket tambahan, "Bagaimana kalo tambah seribu rupiah, Bapak bisa dapat tambahan donat?" Iya lah…aku mau, cume serebu, pake tambahan senyum manis lagi, "Ok, saya mau donat bertabur almon."

Setelah kutaruh ransel dan sekantung plastik (tanpa kuhiraukan protes Dee Lestari yg anti ‘keresek’) oleh2 tempe goreng, sale kering, keripik bayam dan apa tuuuh…yg silindris putih kekuningan, aku pun menuju ekor gerbong: ngopi, makan donat &…merokok. (Kebiasaan buruk!)

Argo Gede berjalan tepat waktu. Keluar dr Stasiun Bandung, kiri kanan rel tampak drainase baru. Lumayan bersih…..tunggu Ciroyom, Andir, Cimahi, Padalarang… Emang ada stasiun KA di Indonesia yg bersih? Ha ha ha…. menghina sekali. Jd inget kata2 Wapres atau siapa ya, "Jangan suka menjelek-jelekkan bangsa sendiri!)

Donat abis. Kopi abis. Rokok abis 4 batang. Kucuci tangan dan kembali ke kursi 6B (seharusnya A, tapi dah ada yg nempatin, judes :) di gerbong-1. Kurapatkan jaket lantas berusaha memejamkan mata.

Sampe di Jatinegara jam 13.30, telat 15 menit, biarin deh… Aduh, jalan depan setasiun tergenang. Habis hujan besar rupanya. Mana Blue Bird? "Ke Kalibata Pak."
Jakarta, here I come… again.

Surabaya, 21 Februari 2008

February 22nd, 2008 by bengjaw

Mendarat di Bandara Juanda hari Senin 18 Februari, hujan lebat. Kuambil payung dari ransel. Padahal pintu pesawat dihubungkan dengan belalai gajah, payungku ga kepake. Sambil nunggu bagasi, kuminta Khamim menelepon Hotel Bisanta Bidakara untuk memastikan mobil jemputan.

Tidak ada tanda-tanda sopir hotel. 10 menit tengok kiri kanan, aku mulai resah. Untung Yauri segera menghampiri, "Kemana aja, kutelepon 4 kali ga diangkat.  Mobilnya di sana." Rupanya Yauri yang pertama keluar langsung  disambut sopir hotel,  sementara kami  mencari-cari sang sopir.

Seingatku ga ada perubahan menyolok di bandara. Perubahan terlihat berupa jalan tembus yang lebar dan lurus menuju Surabaya. Bangunan kiri kanan jalan tampak baru dipangkas dan dibangun ulang. Lumayan, Toyota Avanza yang kami tumpangi bisa melaju cepat. Macet di jalanan selanjutnya?

Apa mau dikata, Surabaya sore hari juga macet seperti kota-kota besar lainnya. Hanya tidak sampai membuat kami stress. Selain macetnya tidak terlalu panjang, jalanan bersih. Ini baru hebat. Biasanya kupuji Bali dengan jalanannya yang bersih. Jauh sekali dengan Bandung atau pinggiran Jakarta.

Bersihnya ternyata juga terlihat di gang yang kulalui ketika hendak ke Tunjungan Plaza. Dari hotel di jalan Tegalsari, aku naik becak. Banyak anak-anak di gang itu, juga banyak pot bunga. Tidak tampak sampah berserakan. Aku turun dari becak dengan gembira, kuharap Tunjungan Plaza pun bersih dan nyaman.

Aku masuk mal dari pintu samping kanan TP. Suasana Imlek segera terasa. Dominasi warna merah dari rangkaian liontin yang digantung sepanjang lorong dipertegas dengan kuil kertas setinggi 20 meter yang merah juga. Tidak terlalu padat pengunjung, aku jadi leluasa bergerak. Setelah membeli ikat pinggang, aku ke lantai 4 menuju Gramedia. Tapi sebentar, ada obral kaos oblong.

Kubeli 5 potong kaos untuk kupakai saat main pingpong nanti di Kalibata. Setelah membayar, aku bergegas ge Gramedia mencari bet pingpong yang diminta Si Bori, tetangga depan kosku. Aku juga beli peta Surabaya yang baru. Ketika sampe di kasir, Andre dan Khamim baru masuk Gramedia. Mereka tertawa melihatku membeli peta. Khamim tahu, aku selalu membeli peta di kota-kota yang kukunjungi.

Aku urung mampir di Starbuck walau sudah lapar. Jam menunjukkan pukul 9. Aku ga bisa makan enak di Starbuck, walau aku tergoda aroma kopinya. Suasananya terlalu mewah untukku. Akhirnya aku makan bebek goreng di depan hotel.

Kamis 21 Februari, kami diantar dari hotel menuju bandara, sekali lagi lewat pasar Wonokromo. Bersih juga ternyata pasar itu, Kini Andre yang berseru, "Bersih ya Surabaya?" Aku tersenyum. Mendekati bandara terlihat bibit-bibit mahoni sebagian merana. Rupanya tidak sesubur temannya di sekitar bandara Sukarno-Hatta.

Ah… senangnya melewati jalanan bersih dan bisa berharap suatu hari Surabaya, Jakarta dan kota-kota besar lainnya menjadi asri, menyegarkan. Semoga :)

Orang Utan

January 31st, 2008 by bengjaw

Mara bilang, sorot mata orang utan lebih manusiawi daripada sorot mata manusia. Pasti dia mendramatisasi ungkapannya itu. Tapi mungkin dia prihatin dengan banyaknya tindakan manusia yang tidak menunjukkan kesejatiannya.

Andai semua, atau setidaknya sebagian besar manusia manusiawi, tentu sedikit kerusakan terjadi di bumi. Banjir, longsor, kelaparan, drop-out sekolah tingkat dasar, kriminalitas, kesenjangan sosial yang tajam, semuanya menjadi bukti kekagagalan manusia memamusiakan diri.

Begitu pula para orang utan, juga banyak populasi makhluk hidup lainnya, terancam dalam habitat alaminya. Aku merasakan kesedihan dalam sorot mata orang utan. Kurasakan juga kesedihan Mara yang lahir dekat dengan habitat orang utan di Kalimantan Timur.

Peluklah boneka orang utanmu, Mara :)  semoga bisa sedikit memberi pengharapan akan membaiknya nasib mereka, juga pengharapan makhluk lain yang termarjinalisasi oleh keserakahan makhluk berkaki dua dan berakal namun berhati batu.

Libur Lebaran

October 22nd, 2007 by bengjaw

Libur lebaran lumayan lama. 5 Oktober sore aku dah bergegas ke Bandung. 22 Oktober 10.30 Argo Gedeku baru jalan ke Jakarta. Jam 14 baru nyampe kantor, cuma ada 3 orang.

Jd malu sm tmn2 yg kerja di bank atau polisi & petugas lain yg ttp bertugas bahkan saat berlebaran. Lebih malu lg krn ternyata liburan panjang nyaris habis di depan komputer: play the Sid Myer’s Civilization III :))  Masa aku ga solat ied krn bangun kesiangan setelah malam takbiran tidur jam 3. Bukan krn takbiran di mesjid.

Ada jg hal baik yg kukerjakan. Kutemui tmn2 yg mau nulis buku bareng, bisnis bareng. Kurawat bonsai2 yg kurang terurus. Kuterima hadiah bonsai dr tetangga depan rumah, lalu kuganti pot & medianya. Kubalas puluhan SMS met lebaran & kukirim SMS met lebaran buat mereka yg ga ngirim SMS duluan. Kubereskan kamarku yg berantakan.

Bagaimana dengan hidupku yg berantakan? Ah, gak seburuk itulah… Setidaknya aku masih bisa makan enak, banyak teman, disayang keluarga & tetangga. Betapa pun beratnya masalahku sekarang, aku tetap tersenyum. Sesuai anjuran kawan baruku di FS, Dewi di Malang, "Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, tersenyumlah agar berbahagia!"

Terima kasih Ibu, ciuman, pelukan & ucapan selamat ulang tahunnya membuatku bersukur sepanjang jalan. Makasih Dewi, br kenal di FS, repot2 ngucapin met ultah; Linda jg :)

Makasih Ririn, Okta & Pak Rino yg menyambutku di kantor dengan senyum lebar yg tulus. Makasih lg untuk Ririn & suaminya yg bantu tambah RAM laptop, Okta yg kue lebarannya masih nyisa, & Pak Rino yg nyiapin Indomi goreng.

Berhenti libur setelah lebaran tetap bikin senang. Tuhan ngasih banyak & ga berhenti ngasih. Alhamdulillah!

Ya Allah, sayangilah ibuku, keluargaku, tetanggaku, teman2ku, dan semua orang yg mensyukuri nikmatMu!

NB: Ya Allah, bantulah kawanku menyelesaikan disertasinya, amin.

nyaris puasa

September 13th, 2007 by bengjaw

Kalibata, 12 September 2007, melelahkan.

Biasanya aku bersiap khusus menghadapi Ramadhan, tidak kali ini. Pagi2, setelah kemarin istirahat sehabis pulang dr Cipayung, lalu rapat koordinasi dg INFID, JARI & Oxfam GB, tiba2 ditelepon Hani.

"Hi, darling! (kecentilan nih, Si Hani) Bisa ga bantuin terjemahan, tp ASAP say?" Kuterima attachment melalui Yahoo, seperti tanggal 6 dr Angke, bahan untuk diterjemahkan. (Alhamdulillah, masih dipercaya dpt kerjaan sampingan :)

Terjemahan terpotong rapat jam 11, terus sampai jam 16.30. Ketika rapat Hani nelepon. Apa daya, Hani harus nunggu aku selesai rapat. Akhirnya terjemahan selesai 18.45. Aduh, Si Item & Ucup nungguin di Cafe BB’s belakang Taman Menteng.

Sampe di sana Cafe tutup. Emang ada larangan Pemda DKI buat cafe2 tutup? Ah, untung banyak jajanan sekitar situ. Kami pun ngobrol sampai hujan mulai deras. Lalu kami masuk ke Menteng Mall (is it a mall?). Ngopi, kemudian diusir karena dah mau tutup. Trus ke Jl. Jaksa.

Apa ga cukup obrolan 2 jam? Biar aja, aku pengen tau suasana bar di Jl. Jaksa. Ternyata tidak terlalu ramai. Kami masuk ke bar…lupa.

Di menteng dah makan pisang bakar keju, eh aku pesen pisang pancake & teh botol :) Item pesen 3 botol besar bir buat dia, Ucup & Seto. Apa enaknya? Aku ga minum bukan karena kandungan alkoholnya, tp emang ga suka rasa bir: pahit.

23.30 aku ngantuk. kuajak mereka pulang. Asiklah ketemu 2 teman lama dan 2 teman baru. Ditambah tawaran menyelengarakan pelatihan buat personel bengkel keluarga Si Item & Seto. Kami janji nengok bengkel di Pondok Gede Kamis depan.

Ucup nganter sampai Pancoran. Aku naik taxi, argonya cuma 7.500. Kukasih 20rb, sopirnya tersenyum. Aku jalan dikit ke tempat kos. Sebelum buka pagar, yg punya warung nasi janji mau bangunin saat sahur.

Cape seharian, tapi banyak senyum & tawa. Makasih, Tuhan :)

13/9/07 HARI INI PUASA pertama, buka sambil menjawab sms dr Madura dan Cicalengka. Makasih lagi, Tuhan :)) terimalah saumku, amin.

Partnership Meeting

August 27th, 2007 by bengjaw

Ketiga kalinya kukunjungi Kendari, namun tiada tempat wisata yang kutuju. Aku cuma mau rapat, judulnya "Partnership Cordination Meeting". Kemitraan? Apa iya relasinya sederajat? Tiadakah dominasi?

Agenda sudah ditentukan, walau fasilitator dengan santun menawarkan agenda rapat kepada partisipan. Tidak ada perdebatan sengit soal agenda. Hanya saja kami mesti sabar diceramahi strategi advokasi, gender mainstreaming, kritisi penganggaran publik yg birokratis & format2 monitoring.

Percikan amarah tak terhindarkan. Aku marah karena dinilai inkompeten. Temanku marah karena diceramahi. Fasilitator marah karena Si India bertele-tele dan butuh panggung. Temanku yang lain kesal karena Si India keras kepala. Dia mau dengar & ga masalah dengan beda pendapat, tapi dengan pongahnya menegaskan kuasanya.

Aku dan Mulyadi dr Makassar memilih untuk tertawa daripada pusing atau marah berkelanjutan. Toh pada akhirnya disepakati manajemen program lebih fleksibel, akomodatif dengan dinamika politik lokal tempat advokasi berfungsi. Rapat koordinasi ditutup dengan penuh basa-basi.

Sabtu malam, 8 di antara kami berkumpul menumpahkan perasaan sambil ngopi. Kemarahan & kejengkelan meluruh dalam tawa, sampai tengah malam sopir hotel menegur dengan halus, "Maaf Pak, sudah lewat tengah malam. Mohon suaranya tidak terlalu kencang."

Aku pun masuk kamar, berkemas agar besok subuh bisa bangun dan berangkat ke bandara dengan tenang. Oleh-oleh dah kubeli sore, patung kayu dan jambu mete.

Sebelum bulan puasa, kami mau bertemu lagi di Jakarta. Aku harus segera menulis ToR & mengajukan anggarannya. Hmmm… Moga2 rapat tidak menyulut kemarahan lagi.

17 Agustus 2007

August 17th, 2007 by bengjaw

Terlambat solat subuh, aku tidur lg & baru bangun 10.30. Cape, kemarin habis rapat di kantor, trus ke Kampung Melayu, nyamper temans ke DPR. Terlambat tiba di DPR, Biro Humas dah tutup. Kami menyebar undangan Civic Info FAir 21-23 Agt. Sebelum pulang, mampir ke kantor Pamdal (Pengamanan Dalam), koordinasi loading barang-barang pameran. Ke Kampung Melayu lg, tp mampir dulu di Baso Lapangan Tembak.

Satu jam lebih lewat Gatot Sobroto. Sejak Semanggi sampai Pancoran, bahkan terus ke Jatinegara, kendaraan merayap. Lewat Kebon Nanas, akhirnya sampe di kantor Yappika. Tuti, PRO, sudah menunggu draft press release. Ajeng membuatnya, aku menyuntingnya sebelum kuserahkan ke Tuti. 21.30 aku keluar ke Kampung Melayu, naik mikrolet no.16.

Menyusuri Otista, Dewi Sartika, lewat TMP Kalibata yg dijaga ketat. RI-1 mau mampirkah? Tiap 10m ada polisi di luar pagar, dalam pagar ada tentara. Seisi mikrolet keheranan, walau akhirnya kami lewatkan dalam benak. Aku ingin segera nyampe tempat kos.

Turun dr ojek, bayar 3000 perak, masuk gerbang rumah kos, langsung ke kamar, & telepon Si Kurus yg mau ketemu besok di Mall Taman Anggek. Gerah, tp asik ngobrol sejam lebih sampe "3", operator yg obral bonus pulsa, memutuskan koneksi kami. Gosok gigi, gabung magrib & isa, tidur.

11.30 selesai mandi & pake batik & celana jean. Beli nasi rames. Sempat kok, makan, seruput Indocafe cappucino, & isap sebatang Sampoerna Mild. Adzan selesai. "Pa Nur, ke mesjid dulu ya..". Pa Nur batal ke mesjid , nunggu Gofur yg mau ambil tiket Garuda ke Palembang.

Khotib sangat bersemangat, suaranya melengking seolah menyerukan jihad. Padahal khotbahnya tentang peringatan Hari Kemerdekaan pada bulan Sya’ban, dikaitkan dengan Futuh Makkah & turunnya Surat …, sorry lupa :) … Muhammad SAW mengajak istigfar setelah menaklukkan Makkah tanpa pertumpahan darah.

Khotib menyayangkan perilaku sebagian temans yang hanya bersenang-senang daam memperingati kemenangan, Kemerdekaan RI. Presiden telah memberi contoh baik, membuat tradisi baru, berkumpul di Istiqlal pada malam 16 Agustus. (Masih banyak PR ya, Bapak Presiden? Lapindo gimmana? BLBI gimana, jg DCA dg Singapura? He he he)

Anyway, solat Jum’at berakhir. Aku bergegas pulang. Sayang kopi blum habis. Mampir beli roti bakar 2000 perak, pepaya besar 8000 perak. Sampe di kantor lg, cuci tangan, turn on the laptop, buka 2 email account, & masuk FS, nulis blog ini. Merdeka!!!

Surabaya

August 4th, 2007 by bengjaw

Sejak tahun 1998, akhir Juli lalu aku mengunjungi Surabaya untuk kedua kalinya. Pasti beda jauh perkembangannya, terlebih aku menginap di sudut kota yang berbeda.

Kunjungan pertama dibebani stress karena aku mau ditugaskan sebagai wakil manajer cabang sebuah penerbitan. Sang manajer yang menjemputku di stasiun KA. Lalu dia mengantarku ke penginapan murah, entah di daerah mana. Kebaikan hatinyalah yang berkesan, ditambah ingatan kunjungan ke sebuah SMA Kristen dengan bangunan tuanya.

Kunjungan kedua jauh lebih berkesan, ga ada stress soalnya. Tujuannya pun cuma rapat, ditambah bahas draft kontrak dengan Oxfam. Perjalanan menyenangkan, tidak melelahkan karena cuma 1 jam 15 menit dalam pesawat Garuda. Dari bandara naik taxi, langsung ke Hotel Ibis di Jl. Rajawali, dekat Jembatan Merah.

Karena datang terlalu pagi, aku jalan-jalan dulu ke pusat grosir sebrang Ibis. Kulewati sebuah monumen yang dikelilingi pagar. Tidak ada orang di sana, kecuali gelandangan yang tidak menghiraukan ancaman denda/kurungan karena menerobos pagar monumen. Para pedagang kaki lima berbaris rapi dengan atap seragam. Bis kota, tukang beca, taxi, mangkal nunggu penumpang.

Jam 1 siang aku check in. Kamar 827 tempat aku menginap, menghadap menara air dengan latar belakang pantai dan pelabuhan. Kamarnya dijejali lemari, coolbox sekaligus meja TV, ranjang king size, meja tulis dan kursinya, 2 kursi empuk dan meja kecil dengan asbak di atasnya.

Malamnya sudah disiapkan makan malam. Insiden kecil terjadi. Seorang bapak dari Madura marah-marah karena ditanya nomor kamarnya dengan cara yg kurang sopan. Suaranya lantang dan diulang-ulang lebih dari 30 menit dengan interval 10 menit. Para pelayan restoran kikuk, wajah pianis mengkerut walau jemarinya terus menari. Aku dan temanku dari Buton tertawa kecut. 

Selebihnya, hampir 3 hari di Surabaya, menyenangkan. Apalagi bisa bergurau dalam rapat yang sesekali tegang. Waktu istirahat bisa bercanda dengan panitia. Dan pulangnya menuju Bandara Juanda, aku baru sadar, banyak bangunan tua masih kokoh berdiri. Jalanan pun tersapu bersih. Semoga semua sudut Kota Surabaya bersih, jangan sampai dapat julukan kota sampah seperti Bandung.

Buton

June 24th, 2007 by bengjaw

Minggu lalu aku ke Pulau Buton. Kirain cuma ada dua administrasi, ternyata tiga: Kabupaten Buton, Kota Bau-bau dan Kabupaten Buton Utara. Lucunya, rumah dinas Walikota Bau-bau dan Bupati Buton cuma berjarak puluhan meter. Mereka masih berebut aset pemda. Bupati Buton mau menyerahkan aset kalau diberi uang kompensasi. Walikota Bau-bau menolak karena aset itu milik negara, bukan milik Pemda Kabupaten Buton. Lima tahun masalah ini telah berlangsung dan Pemerintah Pusat belum turun tangan.

Pusing ah nyeritain rebutan aset pemda, enakan cerita alam dan kebudayaannya.

Pulau Buton berbikit-bukit. Di tengah pulau ada hutan lindung. Lorelindu-kah namanya? Artinya menara air. Bentang pulaunya kira-kira seratus kilometer, lebarnya mungkin 40 km. Kalau ditata dengan baik, pulau ini bisa jadi daerah wisata yang indah.

Sayang tidak ada lagi penerbangan ke Buton, jadi lapangan udaranya terbengkalai. Makanya aku harus naik kapal cepat dari Kendari, 5 jam pake digoyang ombak sekitar 15 menit sampai aku mual. Cuma ada dua kapal cepat yang berangkat dari dan ke Kendari tiap jam 7 dan 12.

Hotelnya? Waduh, yang namanya hotel Mawar milik Wakil Walikota, katanya sih hotel kedua terbaik, tapi…kurang terawat. Bak di kamar yang kutempati, tidak pernah dikuras. Ada endapan tanah sehingga dasar bak gelap. Tempat tidur tidak dibereskan ketika tamu keluar. Harga sewa kamar? 250 rebu semalam.

Untung teman-teman baruku di sana baik-baik. Mereka mau nganter-nganter ke keraton, pasar tradisional, pantai, landas pacu pesawat yang sepi, kantor walikota yang baru dibangun di puncak bukit, tempat nongkrong dengan patung naga genitnya…

Dan…yang penting kerjaanku sebagai "coacher" policy review selama 3 hari, lancar.

Pengalaman baru di tempat baru dengan teman-teman baru selalu menyenangkan :)

Semoga Buton bisa segera bebenah hingga makin menarik unutk dikunjungi.